Sahabat ialah kebutuhan jiwa, yang mendapat imbangan.
Dialah sawah hati, yang dengan kasih kau taburi
Dan kau pungut buahnya penuh terima kasih
Dia pulalah naungan sejuk keteduhanmu
Sebagai sebuah pendiangan demi kehangatan jiwamu
Karena engkau menghampirinya dikala hatimu gersang kekeringan
Dan mencarinya dikala jiwa membutuhkan perhatian
Bila ia bicara, menyatakan pikirannya,
kau tiada menakuti bisikan “tidak” dihatimu sendiri
Pun tiada engkau takut melahirkan kata “Ya”
Dan bilamana ia diam , terbungkam tanpa bicara
Hatimu tiadakan henti, mencoba menangkap bahasa hatinya.
Karena dalam persahabatan, tanpa kata,
Segala pikiran, harapan, keinginan, dicetuskannya bersama dan didukung bersama
Dengan suka cita yang utuh, pun tiada tersimpan
Disaat berpisah dengan teman, engkau tiada kan berduka cita
Sebab apa yang paling kau sukai darinya,
Amatlah mungkin lebih cemerlang dari kejauhan,
Sebagaimana sebuah gunung nampak lebih megah dari sawah , ngarai, daratan…
Hendaknya janganlah ada tujuan lain dari persahabatan
Kecuali saling memperkaya kejiwaan.
Sebab kasih yang masih mengandung pamrih, diluar kasih itu sendiri
Bukanlah kasih yang akan diraih,akan tetapi jejaring yang ditaburkan.
Yang hanya akan menangkap penyakit yang tiada diinginkan
Persembahkanlah yang terbaik dari sebuah persahabatan,
Jika ia mesti tahu musim surutmu,
Biarlah ia mengenal musim pasangmu pula,
Sebab siapakah teman itu , hingga engkau hanya mendekatinya?
Untuk suatu kebersamaan sekedar akan membunuh waktu?
Carilah persahabatan untuk bersama-sama menghidupkan sang waktu !
Dialah orangnya untuk mengisi kelemahanmu
Bukannya untuk mengisi keisenganmu.
Dalam persahabatan yang baik
Biarkanlah ada canda tawa ria kebahagiaan
Tuk berbagi duka maupun suka cita
Sebab dari titik –titik kecil embun pagi hari
Hati manusia menghirup fajar merekah
Dan menemukan kehidupan gairah segar
(Kahlil Gibran)
***
Persahabatan yang sejati tidak melihat hasil dan buah dari persahabatan tersebut,
namun kedua belah pihak menikmati proses yang terjadi sebagai bagian dari tugas kehidupan
"Sahabat sejati adalah orang yang mau mendengar dan mengerti ketika Anda mengungkapkan perasaan Anda yang paling dalam.
Ia mendukung ketika Anda tengah berjuang .
Ia menegur dengan lembut penuh kasih ketika Anda berbuat salah,
ia memaafkan ketika Anda gagal.
Seorang Sahabat sejati melecut Anda untuk pertumbuhan pribadi,
mendorong Anda memaksimalkan potensi Anda sepenuhnya.
Adapun yang paling menakjubkan , ia merayakan keberhasilan Anda
seolah-olah keberhasilannya sendiri".
Ketika Sang Mentari mulai menampakkan wajah hari ini, mari kita merenung,
"Sudahkan kita menjadi sahabat sejati bagi orang lain,
dan siapakah sahabat sejati kita yang sesungguhnya hingga hari ini?"....
Rabu, 19 Mei 2010
SAHABAT...
Kamis, 06 Mei 2010
Pewaris Negeri
Pewaris Negeri
Album : Pewaris Negeri
Munsyid : Izzatul Islam
http://liriknasyid.com
Intro;
Janganlah ragu
Melangkah maju
Tegakkan keadilan
Reff:
Padamu pewaris negeri
harapan slalu terpatri
Azzam tetap membahana
Hingga terwujudkan janji
Menderas maju nan tiada ragu
Hantam angkara sibakkan gulita
Sibak panji Islam kan mengangkasa
Umat mulia menghulu semesta
Melangkah beriringan
Lantakkan kebatilan
Bergerak keharmonian
Tegakkan keadilan
Sgala rintangan menjadi suratan
Penempa diri mujahid sejati
Janji ALLAH lah jadikan tujuan
Hidup mulia atau kesyahidan
semangat !!!
Seorang teman aggota Rohis pernah mengeluh. “Aku lelah banget. Dakwah ke sana-kemari nggak ada hasilnya. Malah yang ada, temen-temen pada ngejauhin aku! Kapan sih mereka akan berubah?”
Dengan tersenyum, sang murobbi menjawab:
“Dakwah merupakan proses panjang, lintas generasi. Hasilnya tidak bisa kita ketahui saat ini. Kiprah kita seolah tak ada artinya. Kita melihat tak ada perubahan. Teman-teman kita kadang lupa sholat, dan masih tetap seperti itu. Saudara-saudara kita kadang lupa ngaji, dan tetap bertahan saja seperti itu. Mana yang telah kita perbuat untuk dakwah? Atau setidaknya, untuk mereka lah! Mana? Tapi yakinlah, ALLAh senantiasa Maha Mengetahui.”
Ketika itulah mungkin kita merasa begitu lelah. Menunggu perubahan tapi tak ada yang berubah. Menanti perbaikan tapi ternyata semua sia-sia.
Kita boleh merasa lelah, Sahabat. Itu merupakan fitrah. Tapi kita tidak boleh berhenti walau sekedar untuk istirahat. Kita tidak punya waktu untuk istirahat. Kita hanya punya dua pilihan: sekarang atau tidak sama sekali. mana yang akan kita pilih?
Sahabatku,
Imam Ahmad bin Hambal ketika ditanya “kapankah seorang hamba bisa istirahat?” beliau menjawab “Ketika kakinya menginjak surga.”
Imam Ahmad pula patut dijadikan teladan. Ketika beliau memimpin murid-muridnya ke suatu kampung untuk menuntut ilmu. Salah seorang muridnya melihat ada sumur di pinggir jalan. Dia ingin meminumnya. Tapi kemudian Imam Ahmad mencegahnya. “Bersabarlah, kampung itu sudah dekat. Kita minum di
Padahal waktu itu kampung masih ada kurang lebih 100 mil lagi.
Hikmah yang bisa diambil ialah: Kita harus menanamkan sikap sabar dalam berdakwah. Kita mungkin merasa lelah. Tapi jangan berhenti, perjalanan masih panjang. Kemenangan sudah menanti kita.
