Sabtu, 11 September 2010
SAHABATKU...
Kupandang dirimu dengan mataku
Kusimpan namamu dihatiku
Senyummu tak pernah pudar dari ingatanku
Bersama kita arungi kisah-kisah
Tanpa batas ikatan waktu
Tanganku takkan sungkang merangkul pundakmu
Nasehatku takkan habis menenangkanmu
Saat lara menyayat hatimu
Saat s’mua tinggalkan dirimu
Kukan s’lalu setia temani dirimu
Sahabatku, ijinkan aku hadir disisimu
Menjagamu saat kau butuh sandaran
Memelukmu saat kau butuh pelipur lara
Menjagamu saat kau terjatuh
Merawatmu dikala hatimu terluka
Sahabatku, bersama kita berjalan
Tertawa menangis bersama
Saat badai datang menerpa
Saat sang bintang tersenyum pada kita
Tangan kita tak pernah terlepas
Kukan s’lalu menjagamu
Meski hadirku tak s’lamanya bersamamu
Namun doaku tak pernah putus
Menghantar semua rasa sayang terdalam
Hingga senyummu s’lalu kulihat
Sahabatku, jangan ragu kesetiaanku
Ingin s’lalu kuhadir disisimu
Menjagamu saat suka duka
Hingga tawamu s’lalu ramaikan hari
Menentramkan hatiku tiap saat
Sahabatku, raih tanganku
Genggam erat jemariku
Tersenyumlah padaku
Karena tulus kukatakan
Ku s’lalu menyayangimu
Rabu, 19 Mei 2010
SAHABAT...
Sahabat ialah kebutuhan jiwa, yang mendapat imbangan.
Dialah sawah hati, yang dengan kasih kau taburi
Dan kau pungut buahnya penuh terima kasih
Dia pulalah naungan sejuk keteduhanmu
Sebagai sebuah pendiangan demi kehangatan jiwamu
Karena engkau menghampirinya dikala hatimu gersang kekeringan
Dan mencarinya dikala jiwa membutuhkan perhatian
Bila ia bicara, menyatakan pikirannya,
kau tiada menakuti bisikan “tidak” dihatimu sendiri
Pun tiada engkau takut melahirkan kata “Ya”
Dan bilamana ia diam , terbungkam tanpa bicara
Hatimu tiadakan henti, mencoba menangkap bahasa hatinya.
Karena dalam persahabatan, tanpa kata,
Segala pikiran, harapan, keinginan, dicetuskannya bersama dan didukung bersama
Dengan suka cita yang utuh, pun tiada tersimpan
Disaat berpisah dengan teman, engkau tiada kan berduka cita
Sebab apa yang paling kau sukai darinya,
Amatlah mungkin lebih cemerlang dari kejauhan,
Sebagaimana sebuah gunung nampak lebih megah dari sawah , ngarai, daratan…
Hendaknya janganlah ada tujuan lain dari persahabatan
Kecuali saling memperkaya kejiwaan.
Sebab kasih yang masih mengandung pamrih, diluar kasih itu sendiri
Bukanlah kasih yang akan diraih,akan tetapi jejaring yang ditaburkan.
Yang hanya akan menangkap penyakit yang tiada diinginkan
Persembahkanlah yang terbaik dari sebuah persahabatan,
Jika ia mesti tahu musim surutmu,
Biarlah ia mengenal musim pasangmu pula,
Sebab siapakah teman itu , hingga engkau hanya mendekatinya?
Untuk suatu kebersamaan sekedar akan membunuh waktu?
Carilah persahabatan untuk bersama-sama menghidupkan sang waktu !
Dialah orangnya untuk mengisi kelemahanmu
Bukannya untuk mengisi keisenganmu.
Dalam persahabatan yang baik
Biarkanlah ada canda tawa ria kebahagiaan
Tuk berbagi duka maupun suka cita
Sebab dari titik –titik kecil embun pagi hari
Hati manusia menghirup fajar merekah
Dan menemukan kehidupan gairah segar
(Kahlil Gibran)
***
Persahabatan yang sejati tidak melihat hasil dan buah dari persahabatan tersebut,
namun kedua belah pihak menikmati proses yang terjadi sebagai bagian dari tugas kehidupan
"Sahabat sejati adalah orang yang mau mendengar dan mengerti ketika Anda mengungkapkan perasaan Anda yang paling dalam.
Ia mendukung ketika Anda tengah berjuang .
Ia menegur dengan lembut penuh kasih ketika Anda berbuat salah,
ia memaafkan ketika Anda gagal.
Seorang Sahabat sejati melecut Anda untuk pertumbuhan pribadi,
mendorong Anda memaksimalkan potensi Anda sepenuhnya.
Adapun yang paling menakjubkan , ia merayakan keberhasilan Anda
seolah-olah keberhasilannya sendiri".
Ketika Sang Mentari mulai menampakkan wajah hari ini, mari kita merenung,
"Sudahkan kita menjadi sahabat sejati bagi orang lain,
dan siapakah sahabat sejati kita yang sesungguhnya hingga hari ini?"....
Kamis, 06 Mei 2010
Pewaris Negeri
Pewaris Negeri
Album : Pewaris Negeri
Munsyid : Izzatul Islam
http://liriknasyid.com
Intro;
Janganlah ragu
Melangkah maju
Tegakkan keadilan
Reff:
Padamu pewaris negeri
harapan slalu terpatri
Azzam tetap membahana
Hingga terwujudkan janji
Menderas maju nan tiada ragu
Hantam angkara sibakkan gulita
Sibak panji Islam kan mengangkasa
Umat mulia menghulu semesta
Melangkah beriringan
Lantakkan kebatilan
Bergerak keharmonian
Tegakkan keadilan
Sgala rintangan menjadi suratan
Penempa diri mujahid sejati
Janji ALLAH lah jadikan tujuan
Hidup mulia atau kesyahidan
semangat !!!
Seorang teman aggota Rohis pernah mengeluh. “Aku lelah banget. Dakwah ke sana-kemari nggak ada hasilnya. Malah yang ada, temen-temen pada ngejauhin aku! Kapan sih mereka akan berubah?”
Dengan tersenyum, sang murobbi menjawab:
“Dakwah merupakan proses panjang, lintas generasi. Hasilnya tidak bisa kita ketahui saat ini. Kiprah kita seolah tak ada artinya. Kita melihat tak ada perubahan. Teman-teman kita kadang lupa sholat, dan masih tetap seperti itu. Saudara-saudara kita kadang lupa ngaji, dan tetap bertahan saja seperti itu. Mana yang telah kita perbuat untuk dakwah? Atau setidaknya, untuk mereka lah! Mana? Tapi yakinlah, ALLAh senantiasa Maha Mengetahui.”
Ketika itulah mungkin kita merasa begitu lelah. Menunggu perubahan tapi tak ada yang berubah. Menanti perbaikan tapi ternyata semua sia-sia.
Kita boleh merasa lelah, Sahabat. Itu merupakan fitrah. Tapi kita tidak boleh berhenti walau sekedar untuk istirahat. Kita tidak punya waktu untuk istirahat. Kita hanya punya dua pilihan: sekarang atau tidak sama sekali. mana yang akan kita pilih?
Sahabatku,
Imam Ahmad bin Hambal ketika ditanya “kapankah seorang hamba bisa istirahat?” beliau menjawab “Ketika kakinya menginjak surga.”
Imam Ahmad pula patut dijadikan teladan. Ketika beliau memimpin murid-muridnya ke suatu kampung untuk menuntut ilmu. Salah seorang muridnya melihat ada sumur di pinggir jalan. Dia ingin meminumnya. Tapi kemudian Imam Ahmad mencegahnya. “Bersabarlah, kampung itu sudah dekat. Kita minum di
Padahal waktu itu kampung masih ada kurang lebih 100 mil lagi.
Hikmah yang bisa diambil ialah: Kita harus menanamkan sikap sabar dalam berdakwah. Kita mungkin merasa lelah. Tapi jangan berhenti, perjalanan masih panjang. Kemenangan sudah menanti kita.
Sabtu, 06 Maret 2010
Sebiru Hari Ini
Sebiru Hari Ini
Album : Sepotong Episode
Munsyid : Edcoustic
http://liriknasyid.com
Sebiru hari ini, birunya bagai langit terang benderang
Sebiru hati kita, bersama di sini
Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah
reff:
Bukankah hati kita telah lama menyatu
Dalam tali kisah persahabatan ilahi
Pegang erat tangan kita terakhir kalinya
Hapus air mata meski kita kan terpisah
Selamat jalan teman
Tetaplah berjuang
Semoga kita bertemu kembali
Kenang masa indah kita
Sebiru hari ini
Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah
intro
reff 2x
Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah
untuk akhwat!!!
Senyumnya manis merangsang hati
Kalau jalan hanya bumi yang diliati
Kenapa? Uangnya jatuh ya ukhti?
Eh, emang dasar gak ngerti!
Mereka gitu karena jaga hati!
Ukhti oh ukhti
Penginnya selalu berbuat lebih
Kadang rapat gak kenal hari
Pulang malampun tak peduli
Emang dasar si ukhti
Gak mau kalah buat organisasi
Hebat ukhti!!
Ukhti cantik ukhti soleha
Buat khalwat udah gak selera
Tapi jangan pelihara sinetron di otak ya!
Nanti susah ngitung matematika
Dapet rendah baru kerasa!
Jangan suka ngayal makanya!
Ukhti oh ukhti
Betapa banyak yang menyakiti
Apalagi dari kalangan lelaki
Banyak yang janji mengkhitbahi
Eh, tamat kuliah gak datang-datang lagi!
Jodohmu udah ada yang ngatur ukhti
Jangan takut gak kebagian ikhwan sejati
Ukh,
Sungguh lembut dan terarah
Buat dakwah gak kenal lelah
Tapi ingat, tetap harus jaga izzah!
Ukh, anti memang wanita berkelas
Walau kadang, ruang gerak agak terbatas
Tak boleh out bond yang berat nan keras
Biar malaria gak kambuh dan bikin lemas
Mau flying fox gak bebas
Ketawa ngakak dibilang gak waras
Mempertahankan argument dikatain ngeras
Eh, dibilang gendut malah cemas!
Sabar ukh, ikhlas... ikhlas...
Ukhti saudara seiman
Beli pulsa buat internetan
Kadang kala pake hot spot gratisan
Gabung di FB dan FS buat nambah teman
Dakwah dijadikan alasan
Kok foto anti dipajangkan
Gak takut ada yang jelalatan?
Ukhti.. ukhti.. tak usah cari perhatian!
Apalagi dengan cara kek gituan!
Ahk, malu-maluin teman!
Wahai akhwat sejati
Wanita kepunyaan Sang Pemilik Hati
Mari kita belajar untuk jadi lebih baik lagi
Kita kejar Jannah yang hakiki
Jangan mau berbelok ke dunia fana ini
Mari belajar pada shabiyah yang suci
Tetaplah istiqomah dengan tuntunan Ilahi!
Rabu, 17 Februari 2010
DOA YANG INDAH
Aku meminta kepada Allah untuk menyingkirkan penderitaanku.
Allah menjawab, Tidak. Itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar
kau mengalahkannya.
Aku meminta kepada Allah untuk
menyempurnakan kecacatanku. Allah menjawab, Tidak. Jiwa
adalah sempurna, badan hanyalah sementara.
Aku meminta kepada Allah untuk menghadiahkanku kesabaran.
Allah menjawab, Tidak. Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu
tidak dihadiahkan, itu harus dipelajari.
Aku meminta kepada Allah
untuk memberiku kebahagiaan. Allah menjawab, Tidak. Aku
memberimu berkat. Kebahagiaan adalah tergantung padamu.
Aku
meminta kepada Allah untuk menjauhkan penderitaan. Allah
menjawab, Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian
duniawi dan membawamu mendekat padaKu.
Aku meminta kepada Allah untuk menumbuhkan rohku. Allah
menjawab, Tidak. Kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku
akan memangkas untuk membuatmu berbuah.
Aku meminta
kepada Allah segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup.
Allah menjawab, Tidak. Aku akan memberimu hidup, sehingga kau
dapat menikmati segala hal.
Aku meminta kepada Allah
membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia mengasihiku. Allah
menjawab.., akhirnya kau mengerti. HARI INI ADALAH MILIKMU
JANGAN SIA-SIAKAN. Bagi dunia kamu mungkin hanyalah
seseorang, Tetapi bagi seseorang kamu adalah dunianya.
Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang istirahat duduk di tepi sungai. Ayahnya kemudian mengambil persediaan air dan meminumnya. " Bismillah...Alhamdulillah...air ini nikmat sekali. "
Sang Ayah berkata kepada anaknya, “Air ini ciptaan Allah yang luar biasa, dia bisa menghilangkan dahaga dan menambah tenaga. Air adalah sumber kehidupan makhluk hidup, tanpa air semua makhluk hidup akan matii.”
Pada saat yang bersamaan, seekor ikan mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air, ia mendadak menjadi gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya nikmat sekali, ciptaan Allah yang luar biasa, bisa menghilangkan dahaga dan menambah tenaga, dan sumber kehidupan makhluk hidup, serta tanpa air semua makhluk hidup akan matii. Ikan itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai, tahukah kamu dimana air ? Aku telah mendengar percakapan manusia yang luar biasa tentang air.”
Ternyata semua ikan tidak mengetahui dimana air itu, si ikan semakin gelisah, lalu ia berenang menuju mata air dan bertemu dengan temannya Si Katak. Kepada Katak Si Ikan ini menanyakan hal serupa, “Katak.. tahukah kamu diimanakah air ?”
Katakpun tertawa dan menjawab , “Tak usah gelisah temanku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, air itu luar biasa, sumber kehidupan dan tanpa air kita akan mati. Tetapi untuk mengetahuinya mari ikut denganku" Si katak melompat ke atas daun teratai diikuti oleh ikan. "Hap...hap...hap aku disini tidak bisa bernafas." kata ikan, dan ikanpun melompat kembali ke air sungai. Akhirnya ikan tersebut memahami apa itu air, dan air itu memang luar biasa dan sumber kehidupannya.
Sahabat Hikmah…
Manusia kadang-kadang mengalami situasi seperti si ikan,
Mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan,
Padahal ia sedang menjalaninya dan menyelaminya,
Bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai dia tidak menyadarinya.
Nikmat Tuhan itu seperti air di sekeliling ikan,
Sangat banyak melingkupi kehidupan kita,
Sehingga kita kadang tak sadar bahwa semuanya adalah nikmat-Nya.
Kita mengeluh mendapat musibah,
Padahal kita tidak pernah bersyukur atas nikmat yang tak terhingga.
Kita merasakan nikmat sehat bila kita sakit,
Kita merasakan nikmat kaya, setelah kita jatuh miskin,
Kita merasakan nikmat kebersamaan setelah orang dekat kita tiada,
Seperti ikan merasakan nikmat air ketika dia di daratan.
Firman Allah :
“ Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zholim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah).” (QS Ibrahim ayat 34)
Sahabat Hikmah…
Kebahagiaan itu tidak bisa dicari,
Kebahagiaan itu tidak ada di luar diri,
Kebahagiaan itu ada di dalam diri.
Kebahagiaan adalah sikap bijaksana kita menghadapi setiap keadaan ,
Baik nikmat maupun musibah kita bisa menikmati dengan kebahagiaan.
Kebahagiaan ada bila sikap IKHLAS, SYUKUR dan SABAR ada di dalam diri.
Seperti Syaikh Ibnu Taimiyah yang tetap bahagia walaupun telah diasingkan dan dipenjara.
Beliau berkata “ Dipenjara aku berkholwat (mendekatkan diri kepada Allah), diasingkan aku tamasya, dibunuh aku syahid .“
Atau seperti Ummu Sulaim yang kehilangan anaknya pada waktu Abu Thalhah suaminya pergi menghadap Rasulullah, tetapi beliau tetap bahagia.
Ummu Sulaim berkata kepada seluruh keluarganya: "Janganlah engkau semua memberitahukan hal kematian anak itu kepada Abu Thalhah, sehingga aku sendirilah yang hendak memberitahukannya nanti."
Pada waktu suaminya datang dan bertanya "Bagaimanakah keadaan anakku?"
Ummu Sulaim menjawab: "Ia dalam keadaan yang setenang-tenangnya."
Kemudian Ummu Sulaim menyiapkan makan malam untuknya dan ia pun makan dan minumlah. Selanjutnya dia memperhias diri dengan sebaik-baik hiasan yang ada padanya dan bahkan belum pernah berhias semacam itu sebelum peristiwa tersebut.
Selanjutnya Abu Thalhah bermesraan dengan isterinya dan menyetubuhinya.
Sewaktu Ummu Sulaim telah mengetahui bahwa suaminya telah kenyang dan selesai melampiaskan hasratnya, ia pun berkata kepada Abu Thalhah:
"Bagaimanakah pendapat kanda, jikalau sesuatu kaum meminjamkan sesuatu yang dipinjamkannya kepada salah satu keluarga, kemudian mereka meminta kembalinya apa yang dipinjamkannya. Patutkah keluarga yang meminjamnya itu menolak untuk mengembalikannya benda tersebut kepada yang meminjaminya?"
Abu Thalhah menjawab: "Tidak boleh menolaknya - yakni harus menyerahkannya."
Kemudian berkata pula Ummu Sulaim isterinya: "Nah, perhitungkanlah bagaimana pinjaman itu jikalau berupa anakmu sendiri?"
Abu Thalhah lalu marah dan berkata: "Engkau biarkan aku tidak mengetahui - kematian anakku itu, sehingga setelah aku terkena kotoran (maksudnya kotoran bekas bersetubuh), lalu engkau beritahukan hal anakku itu padaku."
Abu Thalhah lalu berangkat sehingga datang di tempat Rasulullah s.a.w. lalu memberitahukan segala sesuatu yang telah terjadi, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu berdua dalam malam mu itu."
Kemudian Ummu Sulaim hamil, dan setelah lahir diberi nama Abdullah oleh Rasulullah SAW.
Jadi Sahabat Hikmah…
Kita bisa IKHLAS, BERSABAR dan selalu BERSYUKUR…
Apabila kita FOKUS atas NIKMAT Allah yang BANYAK
BUKAN atas SATU NIKMAT Allah yang diambil-Nya..
Wallahu a’lam bishowab
Wassalam
Rabu, 10 Februari 2010
SEKEDAR BERBAGI RASA
SEKEDAR BERBAGI RASA
Orang sering keterlaluan ,
tidak logis dan egois,
Bagaimnapun, MAAFKANLAH..
Bila qta baik hati,
Bisa saja orang lain menuduh qta punya pamrih,
Bagaimanapun, BERBAIK HATILAH..
Bila qta sukses,
Qta akan mendapatkan beberapa teman palsu dan beberapa sahabat sejati
Bagaimanapun, SUKSESLAH..
Bila qta jujur,
Mungkin saja orang lain akan menipu qta
Bagaimanapun, JUJURLAH..
Apa yang qta bangun selama bertahun-tahun
Mungkin saja dapat dihancurkan oranglain dalam semalam
Bagaimanapun, BANGUNLAH..
Bila qta mendapat ketenangan dan kebahagian
Mungkin saja orang lain jadi iri,
Bagaimanapun, BERBAHAGIALAH..
Kebaikan yang qta lakukan hari ini,
Mungkin saja besok sudah dilupakan orang
Bagaimanapun, BERBUAT BAIKLAH..
BAGAIMANAPUN BERIKANLAH YANG TERBAIK DARI DIRI QTA
DAN AKHIRNYA JUGA MERUPAKAN URUSAN QTA DENGAN ALLAH
DAN BUKAN URUSAN QTA DENGAN MEREKA..
LAKUKAN YANG TERBAIK,
IKHLASKN UNTUK DZAT YANG MAHA BAIK..
Loser vs winner
Loser vs winner
Pemenang selalu punya program
Pecundang Selalu punya kambing hitam
Pemenang selalu melihat jawaban pada setiap masalah
Pecundang selalu melihat masalah pada setiap jawaban
Pemenang selalu berkata” itu memang sulit, tapi insyaALLAh bisa”
Pecundang selalu berkata “ itu mungkin bisa, tapi telalu sulit”
Pemenang itu membuat sesuatu terjadi
Pecundang itu hanya membiarkan sesuatu terjadi.
BATU KECIL
BATU KECIL
Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok
yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan
penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.
Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa
mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orangorang
yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.
Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di
bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan
temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu
bekerja kembali.
Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang
kedua pun memperoleh hasil yang sama. Tiba-tiba ia mendapat ide.
Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu.
Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit,
temannya menengadah ke atas? Sekarang pekerja itu dapat
menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.
Allah kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk
membuat kita menengadah kepadaNya. Seringkali Allah melimpahi
kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita
menengadah kepadaNya. Karena itu, agar kita selalu mengingat
kepadaNya, Allah sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita
SO, husnuzhanlah kpd Allah
Selasa, 26 Januari 2010
ISLAMIC TRADITIONS AND THE FEMINIST MOVEMENT: CONFRONTATION OR COOPERATION?
Whether living in the Middle East or Africa, in Central Asia, in
Pakistan, in Southeast Asia, or in Europe and the Americas, Muslim
women tend to view the feminist movement with some apprehension.
Although there are some features of the feminist cause with which we
as Muslims would wish to join hands, other features generate our
disappointment and even opposition. There is therefore no simple or
"pat" answer to the question of the future cooperation or competition
which feminism may meet in an Islamic environment.
There are however a number of social, psychological, and economic
traditions which govern the thinking of most Muslims and which are
particularly affective of woman's status and role in Islamic society.
Understanding these can help us understand the issues which affect
male and female status and roles, and how we should react to
movements which seek to improve the situation of women in any of the
countries where Muslims live.
THE FAMILY SYSTEM: One of the Islamic traditions which will affect the
way in which Muslim women respond to feminist ideas is the advocacy in
Islamic culture of an extended rather than a nuclear family system.
Some Muslim families are "residentially extended" - that is, their
members live communally with three or more generations of relatives
(grandparents, parents, uncles, aunts, and their offspring) in a
single building or compound. Even when this residential version of
the extended family is not possible or adhered to, family connections
reaching far beyond the nuclear unit are evident in strong
psychological, social, economic, and even political ties. Mutual
supports and responsibilities affecting these larger consanguine groups
are not just considered desirable, but they are made legally incumbent
on members of the society by Islamic law. The Holy Quran itself
exhorts to extended family solidarity; in addition it specifies the
extent of such responsibilities and contains prescriptive measures for
inheritance, support, and other close interdependencies within the
extended family.[1]
Our Islamic traditions also prescribe a much stronger participation of
the family in the contracting and preservation of marriages. While
most Western feminists would decry family participation or arranged
marriage as a negative influence because of its apparent restriction
of individualistic freedom and responsibility, as Muslims we would
argue that such participation is advantageous for both individuals and
groups within the society. Not only does it ensure marriages based on
sounder principles than physical attraction and sexual infatuation,
but it provides other safeguards for successful marital continuity.
Members of the family provide diverse companionship as well as ready
sources of advice and sympathy for the newly married as they adjust to
each others' way. One party of the marriage cannot easily pursue an
eccentric course at the expense of the spouse since such behavior
would rally opposition from the larger group. Quarrels are never so
devastating to the marriage bond since other adult family members act
as mediators and provide alternative sources of companionship and
counsel following disagreements. The problems of parenting and
generational incompatibility are also alleviated, and singles clubs
and dating bureaus would be unnecessary props for social interaction.
There is no need in the extended family for children of working
parents to be unguarded, unattended, or inadequately loved and
socialized because the extended family home is never empty. There is
therefore no feeling of guilt which the working parent often feels in
a nuclear or single-parent organization. Tragedy, even divorce, is
not so debilitating to either adults or children since the larger
social unit absorbs the residual numbers with much greater ease than a
nuclear family organization can ever provide.
The move away from the cohesiveness which the family formerly enjoyed
in Western society, the rise of usually smaller alternative family
styles, and the accompanying rise in individualism which many
feminists advocate or at least practice, are at odds with these
deep-rooted Islamic customs and traditions. If feminism in the Muslim
world chooses to espouse the Western family models, it should and
would certainly be strongly challenged by Muslim women's groups and by
Islamic society as a whole.
INDIVIDUALISM VS. THE LARGER ORGANIZATION: The traditional support of
the large and intricately interrelated family organization is
correlative to another Islamic tradition which seems to run counter to
recent Western trends and to feminist ideology. Islam and Muslim women
generally advocate molding of individual goals and interests to accord
with the welfare of the larger group and its members. Instead of
holding the goals of the individual supreme, Islam instills in the
adherent a sense of his or her place within the family and of a
responsibility to that group. This is not perceived or experienced by
Muslims as repression of the individual. Other traditions which will
be discussed later guarantee his or her legal personality. Feminism,
therefore, would not be espoused by Muslim women as a goal to be
pursued without regard for the relation of the female to the other
members of her family. The Muslim woman regards her goals as
necessitating a balance with, or even subordination to, those of the
family group. The rampant individualism often experienced in
contemporary life, that which treats the goals of the individual in
isolation from other factors, or as utterly supreme, runs against a
deep Islamic commitment to social interdependence.
DIFFERENTIATION OF SEX ROLES: A third Islamic tradition which affects
the future of any feminist movement in an Islamic environment is that
it specifies a differentiation of male and female roles and
responsibilities in society. Feminism, as represented in Western
society, has generally denied any such differentiation and has
demanded a move toward a unisex society in order to achieve equal
rights for women. By "unisex society," I mean one in which a single
set of roles and concerns are given preference and esteem by both
sexes and are pursued by all members of the society regardless of sex
and age differentials. In the case of Western feminism, the preferred
goals have been those traditionally fulfilled by the male members of
society. The roles of providing financial support, of success in
career, and of decision making have been given overwhelming respect
and concern while those dealing with domestic matters, with child
care, with aesthetic and psychological refreshment, with social
interrelationships, were devalued and even despised. Both men and
women have been forced into a single mold which is perhaps more
restrictive, rigid and coercive than that which formerly assigned men
to one type of role and women to another.
This is a new brand of male chauvenism with which Islamic traditions
cannot conform. Islam instead maintains that both types of roles are
equally deserving of pursuit and respect and that when accompanied by
the equity demanded by the religion, a division of labor along sex
lines is generally beneficial to all members of the society.
This might be regarded by the feminist as opening the door to
discrimination, but as Muslims we regard Islamic traditions as standing
clearly and unequivocally for the support of male-female equity. In
the Quran, no difference whatever is made between the sexes in
relation to God. "For men who submit [to God] and for women who submit
[to God], for believing men and believing women, for devout men and
devout women, for truthful men and truthful women, for steadfast men
and steadfast women, for humble men and humble women, for charitable
men and charitable women, for men who fast and women who fast, for men
who guard their chastity and women who guard, for men who remember God
much and for women who remember - for them God has prepared
forgiveness and a mighty reward" (33:35). "Whoever performs good
deeds, whether male or female and is a believer, We shall surely make
him live a good life and We will certainly reward them for the best of
what they did" (16:97).[2]
It is only in relation to each other and society that a difference is
made - a difference of role or function. The rights and
responsibilities of a woman are equal to those of a man, but they are
not necessarily identical with them. Equality and identity are two
different things, Islamic traditions maintain - the former desirable,
the latter not. Men and women should therefore be complementary to
each other in a multi-function organization rather than competitive
with each other in a uni-function society.
The equality demanded by Islamic traditions must, however, be seen in
its larger context if it is to be understood properly. Since Muslims
regard a differentiation of sexual roles to be natural and desirable
in the majority of cases, the economic responsibilities of male and
female members differ to provide a balance for the physical
differences between men and women and for the greater responsibility
which women carry in the reproductive and rearing activities so
necessary to the well-being of the society. To maintain, therefore,
that the men of the family are responsible for providing economically
for the women or that women are not equally responsible, is not a
dislocation or denial of sexual equity. It is instead a duty to be
fulfilled by men as compensation for another responsibility which
involves the special ability of women. Likewise the different
inheritance rates for males and females, which is so often sited as an
example of discrimination against women, must not be seen as an
isolated prescription.[3] It is but one part of a comprehensive system
in which women carry no legal responsibility to support other members
of the family, but in which men are bound by law as well as custom to
provide for all their female relatives.
Does this mean that Islamic traditions necessarily prescribe
maintaining the status quo in the Islamic societies that exist today?
The answer is a definite "No." Many thinking Muslims - both men and
women - would agree that their societies do not fulfill the Islamic
ideals and traditions laid down in the Quran and reinforced by the
example and directives of the Prophet Muhammad, salallahu alehi
wasallam. It is reported in the Quran and from history that women not
only expressed their opinions freely in the Prophet's presence but
also argued and participated in serious discussions with the Prophet
himself and with other Muslim leaders of the time (58:1). Muslim women
are known to have even stood in opposition to certain caliphs, who
later accepted the sound arguments of those women. A specific example
took place during the caliphate of 'Umar ibn al Khattab.[4] The Quran
reproached those who believed woman to be inferior to men (16:57-59)
and repeatedly gives expression to the need for treating men and women
with equity (2:228, 231; 4:19, and so on). Therefore, if Muslim women
experience discrimination in any place or time, they do not and should
not lay the blame on Islam, but on the un-Islamic nature of their
societies and the failure of Muslims to fulfill its directives.
SEPARATE LEGAL STATUS FOR WOMEN: A fourth Islamic tradition affecting
the future of feminism in Muslim societies is the separate legal status
for women which is demanded by the Quran and the Shari'ah. Every
Muslim individual, whether male of female, retains a separate identity
from cradle to grave. This separate legal personality prescribes for
every woman the right to contract, to conduct business, to earn and
possess property independently. Marriage has no effect on her legal
status, her property, her earnings - or even on her name. If she
commits any civil offense, her penalty is no less or no more than a
man's in a similar case (5:83; 24:2). If she is wronged or harmed,
she is entitled to compensation just like a man (4:92-93; see also
Mustafa al Siba'i 1976:38; Darwazah n.d.:78). The feminist demand for
separate legal status for women is therefore one that is equally
espoused by Islamic traditions.
POLYGYNY: Although the taking of plural wives by a man is commonly
called polygamy, the more correct sociological designation is
polygyny. This institution is probably the Islamic tradition most
misunderstood and vehemently condemned by non-Muslims. It is one
which the Hollywood stereotypes "play upon" in their ridicule of
Islamic society. The first image conjured up in the mind of the
Westerner when the subject of Islam and marriage is approached is that
of a religion which advocates the sexual indulgence of the male
members of the society and the subjugation of its females through this
institution.
Islamic tradition does indeed allow a man to marry more than one woman
at a time. This leniency is even established by the Quran (4:3).[5]
But the use and perception of that institution is far from the
Hollywood stereotype. Polygyny is certainly not imposed by Islam; nor
is it a universal practice. It is instead regarded as the exception
to the norm of monogamy , and its exercise is strongly controlled by
social pressures.[6] If utilized by Muslim men to facilitate or
condone sexual promiscuity, it is not less Islamically condemnable
than serial polygyny and adultery, and no less detrimental to the
society. Muslims view polygyny as an institution which is to be
called into use only under extraordinary circumstances. As such, it
has not been generally regarded by Muslim women as a threat. Attempts
by the feminist movement to focus on eradication of this institution
in order to improve the status of women would therefore meet with
little sympathy or support.
II. DIRECTIVES FOR THE FEMINIST MOVEMENT IN AN ISLAMIC ENVIRONMENT
What can be learned about the future compatibility or incongruity of
feminism in a Muslim environment from these facts about Islamic
traditions? Are there any general principles to be gained, any
directives to be taken, by those who work for women's rights and human
rights in the world?
INTERCULTURAL INCOMPATIBILITY OF WESTERN FEMINISM: The first and
foremost principle would seem to be that many of the goals of feminism
as conceived in Western society are not necessarily relevant or
exportable across cultural boundaries. Feminism as a Western movement
originated in England during the 18th century and had as one of its
main goals the eradication of legal disabilities imposed upon women by
English common law. These laws were especially discriminatory of
married women. They derived in part from Biblical sources (e.g., the
idea of man and woman becoming "one flesh," and the attribution of an
inferior and even evil nature to Eve and all her female descendants)
and in part from feudal customs (e.g., the importance of carrying and
supplying arms for battle and the concomitant devaluation of the
female contributions to society). The Industrial Revolution and its
need for women's contribution to the work force brought strength to
the feminist movement and helped its advocates gradually break down
most of those discriminatory laws.
Since the history and heritage of Muslim peoples have been radically
different from that of Western Europe and America, the feminism which
would appeal to Muslim women and to the society generally must be
correspondingly different. Those legal rights which Western women
sought in reform of English common law were already granted to Muslim
women in the 7th century. Such a struggle therefore holds little
interest for the Muslim woman. In addition, it would be useless to
try to interest us in ideas or reforms that run in diametrical
opposition to those traditions which form an important part of our
cultural and religious heritage. There has been a good deal of
opposition to any changes in Muslim personal status laws since these
embody and reinforce the very traditions which we have been discussing.
In other words, if feminism is to succeed in an Islamic environment,
it must be an indigenous form of feminism, rather than one conceived
and nurtured in an alien environment with different problems and
different solutions and goals.




